Tidak terasa hanya tinggal hitungan hari, event PORA 2018,
hampir sampai pada waktunya. Ini menyadarkan tiap-tiap atlet yang akan
bertanding pada event itu, segera semakin serius untuk mempersiapkan
dirinya dengan latihan yang maksimal. Memastikan kesiapan mental dan fisiknya
untuk bertanding untuk menjadi juara sebagai pencapainnya.
Begitu juga aku, sadar akan event yang hanya dilaksanakan
empat tahun sekali. Event ini membuatku menjadikannya salah satu
prioritas untuk ku capai. Meskipun begitu banyak halangan dan tantangannya,
akan tetapi aku ingin menjalaninya hanya karena Allah azzawajalla dan bukan
karena nafsu belaka.
Bagaimanapun, jika kembali menjejaki cerita yang dulu saat cidera
dalam bertanding karate di tahun 2012, ini membuat Ibu ku begitu trauma. Bahkan
aku pun tak sanggup membayangkan pengorbanan Ibu ku saat mendampingi aku untuk
melewati proses penyembuhannya. Begitu banyak air mata dan penuh duka karena semua
itu hanya aku dan keluarga ku yang menanggung sendiri.
Setalah masa reses, aku juga mencoba untuk tetap latihan ringan
agar menjaga fisik dan kemampuan tehnik serta kelenturan tubuh. Walau begitu
banyak pertentangan dari keluarga agar aku tidak latihan karate lagi dan bahkan
disuruh beralih cabor lain seperti bola kaki. Tapi karate seperti telah
mengalir kental dalam diri ini, hingga tepat tahun 2017 aku di tawarkan untuk
bermain PORA dari Kab Ateng.
Saat mengikuti seleksinya, aku tidak ada niat untuk terlalu ambisi
untuk mengikuti seleksinya, dan ternyata Allah menghendaki aku lulus pada tahap
Pra PORA dan menjadikan aku peringkat empat. Ini membuat ku bertanya dalam
hati, apakah Allah memberikan masa keemasan ku pada saat ini untuk berkarir di
karate ? aku tertegun diam sambil memikirkan atau flashback kejadian
cidera di masa lampau. Namun aku segera menyadarkan diri dan berdoa agar Allah
azzawajalla memberikan keselamatan dan menjauhi ku dari cidera baik saat
latihan dan pertandingan nanti. Juga aku berfikir – apalagi yang aku lakukan
setelah selesai proses Pra PORA ini...?
Tentu, aku pun mulai kembali membangun keyakinan baik dalam pikiran
dan hati bahwa aku akan jadi yang terbaik dengan pertolongan Allah azzawajalla
saat bertanding nanti. Lanjut aku mulai mengikuti proses latihan yang berbulan-bulan,
mulai dari badan-badan yang sakit, hampir pupus karena latihan yang berat
setiap harinya, juga sambil menjaga komitmen ku untuk menjalankan TOEFL Club
yang aku buat. Hingga akhirnya aku mengembalikan kesadaran diri ini dengan niat
karena Allah dan ikhlas untuk menerima program latihan tersebut dan mencoba
menyeimbangkan kegiatan akademik, karena yang ingin ku capai dari proses ini
adalah keberkahan yang Allah azzawajalla berikan kepada ku.
Pada akhirnya, bahwa pertandingan semakin dekat, aku pun saat ini
hanya memusatkan fokus untuk menjadi Juara 1 di kelas -84 kg Putra, mencoba
terus dengan giat dan mengambil latihan tambahan setiap harinya. Sambil memasrahkan
semua kepada Allah azzawajalla, bahwa aku telah berusaha dan mencoba meyakini
serta mempercayai dengan segala kekuasaan Allah azzawajalla bahwa aku adalah
sang Juara dan atlet terbaik pada PORA nanti. Tentunya aku yakini hal itu
karena atas izin Allah azzawajalla dan aku mempercayainya sambil berdoa juga
diberikan kesalamatan dan keberkahan oleh Allah azzawajalla.
Komentar
Posting Komentar