يَا أَيُّهَا النَّاسُ
اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿٢١﴾
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ
مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ
أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu
dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi
sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan)
dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai
rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh,
padahal kamu mengetahui. [al-Baqarah/2:21-22]
Kebeneran tauhid
yang laik adalah mengenyampingkan atau meninggalkan segala perbuatan yang di
rumuskan dalam perbuatan syirik. Memberanikan diri melibatkan pada ajaran
tauhid untuk mencari keridhaan-Nya dan menjadi hamba sahaya yang bertakwa,
tanpa perlu adanya sawala karena kehakikian tauhid.
Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il
wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu
satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak
tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain
sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh
Tsalatsatil Ushul, 39).
Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai
satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh
Tsalatsatil Ushul, 39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak
hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para
Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang
yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.[1]
Dalam ketauhidan
yang utuh[2],
manusia membawa dirinya untuk selalu menjauhi perbuatan syirik yang mengharap ridha
Allah azzawajalla demi manifestasi terhadap kebaikan pada dirinya agar
terhindar ancaman murka dan siksa Allah azzawajalla dalam perbuatannya.
Keikhlasan pada penghambaan membawa diri menjadi pribadi yang bertaqwa, bukan
sebagai badge belaka dalam prakteknya.
وَاتَّقُوا الَّذِي
خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الْأَوَّلِينَ
dan bertaqwalah kepada Allâh yang telah menciptakan kamu dan
umat-umat yang dahulu”. [asy-Syu’arâ’/26:184][3]
Dan sesungguhnya perintah Allâh Azza wa Jalla ini merupakan hikmah
manusia diciptakan di dunia ini, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ
الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
beribadah kepada-Ku. [adz-Dzâriyât/51:56]
Beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla yaitu: taat secara mutlak
kepada Allâh Azza wa Jalla, disertai dengan rasa cinta dan pengangungan,
berharap dan takut, dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya lewat syari’at Rasul-Nya (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam) dengan hati yang ikhlas.
Firman Allâh Azza wa Jalla:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“agar
kamu bertaqwa”,
Ini adalah tujuan ibadah seorang hamba, yaitu agar bertaqwa, agar
hamba terlindungi dari murka dan siksa Allâh Azza wa Jalla .[4]
Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (wafat 795 H) berkata,
“Makna dasar dari kata taqwa adalah seorang hamba membuat perlindungan yang
akan melindunginya dari apa yang dia takutkan dan dia waspadai. Jadi makna
ketaqwaan hamba kepada Rabbnya adalah dia membuat perlindungan yang akan
melindunginya dari apa yang dia takutkan dan dia waspadai dari Rabbnya, seperti
kemarahan-Nya dan siksa-Nya, dengan cara mentaati-Nya dan menjauhi
kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya.[5]
Implikasi tauhid menyajikan sudut perspektif yang mengkerucut atau tangible
dalam kemurnian ajaran islam, mendinamiskan insan yang rindu pada ajaran nabi
Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam, yaitu meninggalkan kesesatan,
meninggalkan kesyirikan terhadap Allah subhana wa ta’ala.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya
Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta
pertolongan” (Al Fatihah: 5)
Hingga tiba untuk mempertebalkan destinasi bukan untuk akhir,
melainkan kontinuitas yang harus tergengam sampai kapan pun, sebagaimana yang
di katakan surat Al Fatihah ayat 5, bahwa Allah yang mutlak untuk di sembah,
dan menggantungkan diri untuk memohon pertolongan hanya kepada Allah
azzawajalla. Maka implementasi kejernihan tauhid akan tetap terjaga pada
manifestasi kehidupan sehari-hari.
[2] Hasbi. M,
konsep tauhid dalam problematika, jurnal pemikiran alternatif kependidikan,
INSANIA|Vol. 14|No. 2|Mei-Aga 2009|289-319, hal 2.
[3]Sumber: https://almanhaj.or.id/4183-tauhid-perintah-pertama.html
diakses 4 Juni 2018, pukul 15.09 WIB
[5].Kitab Jâmi’ul
‘Ulûm wal Hikam, 1/398, diteliti oleh: Syaikh Syu’aib al-Arnâuth dan Syaikh
Ibrâhîm Bajis, penerbit: Muasasah ar-Risalah.

Komentar
Posting Komentar