Saat duduk dibangku SMA, saya pernah
aktif kegiatan Kerohanian Islam atau disebut dengan HIPISA (Himpunan Pelajar
Islam SMA N. 1 Langsa), dan saya pernah dipercayakan teman-teman menjadi ketua
bidang pengkaderan pada tahun 2008-2009. Saya meyakini bahwa menjadi ketua
pengkaderan adalah suatu hal yang menantang dan memiliki tanggung jawab yang
besar, karena secara mendasar tugas dan tanggung jawab saya adalah pemantapan
kader baik dari segi kualitas kader, menjaga semangat kader untuk tetap aktif,
serta meningkatkan minat siswa lain untuk mengikuti kajian rutin mingguan kerohanian
islam.
Ketika
saya menjabat sebagai ketua bidang pengkaderan, saya dipercayakan oleh
teman-teman sebagai ketua panitia rekrutmen anggota baru dan kegiatan kajian
rutin mingguan. Pada kegiatan rekrutmen anggota baru, saya dan teman-teman
mempersiapkan kegiatan tersebut dengan waktu 3 bulan agar sangat matang dan
tanpa kesan terburu-buru dalam menyiapkan kegiatan tersebut. Di langkah awal
saya mengumpulkan teman-teman untuk bersama-sama mendesain kegiatan sebaik
mungkin, di saat itu saya memberikan peran penting tersendiri untuk mereka dan
meminta mereka bisa bekerja sama dalam tim yang baik, setiap peran pentingnya
adalah pada bidang yang mereka kuasai, diantaranya bidang Kegiatan Acara,
Dokumentasi dan Informasi, Humas, Konsumsi, serta bidang-bidang lainnya yang
mendukung penuh agar suksesnya acara tersebut.
Setelah dengan persiapan yang matang
dan tiba di hari acara, sungguh mengejutkan bahwa begitu banyak peminat yang
mengikuti kegiatan perekrutan Rohis. Tentunya ini adalah hasil kerja tim saya
dan teman-teman. Pada pelaksanaannya dengan memaksimalkan kemampuan manajemen,
leadership, dan komunikasi, saya serta teman-teman berhasil menjalankan acaranya
sampai akhir. Bahkan usai setiap kegiatan acara saya dan teman-teman melakukan
rapat evaluasi, sebagai bentuk kesadaran kami bahwa setiap kegiatan yang sukses
tetap memiliki kekurangan.
Ketika saat menempuh S1 di fakultas
hukum Unsyiah, saya aktif sebagai kader organisasi masyarakat Pelajar Islam
Indonesia, dan tepat di tahun 2014 saya mengikuti kegiatan Leadership Advance
Training (LAT) dan Pendidikan Instruktur Dasar (PID). Pada acara tersebut saya
mendapatkan pembekalan dalam pematangan hal Keislaman, Leadership, Manajemen,
dan pengembangan keilmuan kontemporer, serta agar bisa memenuhi kualifikasi
sebagai instruktur dan bisa berkontribusi dalam mengelola training di setiap
daerah, baik training sekala nasional dan regional.
Tepat di tahun yang sama, saat masa
liburan kuliah selama dua puluh hari, saya membagi waktu saya untuk menjadi
bagian pengelola Leadership Basic Training (LBT) selama tujuh hari dan sisanya
untuk berkumpul bersama keluarga. Saat saya mengelola training, saya berperan
sebagai observer kelas di tahap awal, karena komit dan konsisten mengisi
training di setiap liburan kuliah. Awal mula saya menjadi koordinator tim Leadership
Basic Training (LBT) di tahun 2016 dan tugas penting saya adalah tentunya
mengatur secara keseluruhan tim, peserta, dan panitia. Namun beberapa peran
saya secara khusus adalah merumuskan kerangka acuan pelaksanaan training
sebagai arah dan strategi training, merancang jadwal kerja dan persiapan
non-teknis lainnya, mengkoordinasikan implementasi arah dan strategi training,
mengorganisasi fungsionalitas kerja tim secara dinamis dan katalis,
mengendalikan program training sesuai standar dan mengevaluasi serta melaporkan
training kepada pihak-pihak terkait. Sungguh ini sangat membutuhkan kerja tim
yang begitu baik dan solid untuk melaksanakan kegiatan Leadership Basic
Training (LBT), namun acara berjalan tentunya bukan karena kerja saya sendiri
melainkan tidak kalah pentingnya karena ada kerja sama yang harmonis antara
tim, peserta dan panitia.
Saat ini saya dan teman-teman
sepakat membangun komunitas diskusi ilmiah baik mengenai hukum, ekonomi,
pendidikan, sosial budaya, dan politik (isu-isu kontemporer). Tentunya
komunitas diskusi ini memberikan manfaat untuk wawasan terhadap setiap individu
serta timbulnya gagasan yang membuat gerakan positif walau kecil. Selain itu
saya aktif sebagai atlet karate dan juga sambil mengajar karate di Unsyiah.
Tentunya setelah menyelesaikan
pedidikan di bidang ilmu hukum, saya ingin melanjutkan karir saya di bidang
hukum, khususnya di bidang hukum hak kekayaan intilektual (HAKI), karena dengan
masih minimnya masyarakat yang sadar hukum hak kekayaan intelektual (HAKI)
khususnya di Aceh , ini akan menimbulkan bola salju terhadap Aceh dan ditambah
sudah berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), namun di Aceh begitu masih
sangat minim masyarakat yang sadar hukum hak kekayaan intelektual (HAKI).
Dengan melanjutkan magister di bidang hukum hak kekayaan intelektual (HAKI) dan
setelah saya menyelesaikan magister saya, saya akan menjadi konsultan hukum hak
kekayaan intelektual (HAKI) di Aceh. Namun apabila saya diberikan kesempatan
untuk menyambung doktoral, maka saya bisa akan melakukan kontribusi lainnya dalam
penilitian yang bermanfaat, seminar, penulisan buku yang berkualitas dan dapat
dijadikan referensi serta masukan bagi pemerintah di bidang terkait.
Komentar
Posting Komentar